Delegasi Khilafatul Muslimin Gelar Audiensi Hangat dengan Komisi Pengkajian MUI Pusat: Pertegas Konsep Khilafah dan Empat Pilar Persatuan Umat

oleh

JAKARTA — Pengurus Pusat Khilafatul Muslimin melakukan kunjungan silaturahim dan audiensi resmi ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada Selasa, 29 September 2026. Pertemuan ini terlaksana setelah sehari sebelumnya, yakni pada 28 September 2026, delegasi mendatangi kantor MUI untuk menanyakan progres surat permohonan audiensi yang telah dilayangkan sejak 4 Juni 2026.

Delegasi yang berjumlah lima orang dipimpin langsung oleh Humas Pusat Khilafatul Muslimin, Ustadz Wuri Handoyo. Rombongan diterima secara langsung oleh perwakilan Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan MUI Pusat—yang dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan, K.H. Mukhlash Sarkun MA, Dr. H. Wido Supraha, ST. M.Si, serta Prof. Dr. H. Abdul Djamil, MA. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat.

Meluruskan Pandangan dan Membangun Silahturahim

Dalam sesi pemaparan pembuka, Ustadz Zulmar selaku anggota delegasi Khilafatul Muslimin menyampaikan latar belakang kedatangan mereka. Menurutnya, keragaman latar belakang anggota Khilafatul Muslimin kerap memunculkan kesan eksklusif, tertutup, dan berjarak dari masyarakat maupun pemerintah.

“Latar belakang Anggota Khilafatul Muslimin yang beragam seringkali memberikan kesan kalau Khilafatul Muslimin eksklusif, tertutup, dan tidak mudah bergaul dengan masyarakat ataupun pemerintah. Padahal sebenarnya tidak begitu. Maka hari ini kami merasa harus lebih gencar untuk melakukan silaturahim dan kunjungan kepada tokoh umat serta instansi pemerintah, termasuk hari ini kita melakukan audiensi ke MUI Pusat,” ujar Ustadz Zulmar.

Ia juga menambahkan bahwa delegasinya membawa makalah khusus berjudul “Khilafatul Muslimin Tidak Seperti yang Diduga”. Makalah tersebut disiapkan untuk memberikan penjelasan komprehensif mengenai cara pandang Khilafatul Muslimin dalam memahami makna Khilafah, yang dinilai memiliki titik temu sekaligus perbedaan nuansa dengan pemahaman arus utama umat Islam saat ini.

Khilafah sebagai Sarana dalam Berjamaah

Mengutip ayat suci Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 102 hingga 105, Ustadz Supriono Hadi menjelaskan esensi dari konsep yang diusung organisasinya (jama’ah-nya).

“Khilafah adalah sarana atau wasilah yang telah ditentukan Allah, agar kita mampu untuk mewujudkan takwa dengan sebenar-benarnya serta tidak mati melainkan dalam keadaan berserah diri kepada Allah (QS 3:102l” jelas Ustadz Supriono. “Ber-khilafah adalah berjamaah, praktek dari perintah bersatu serta menjauhi larangan berpecah belah,” tegasnya.

“Khilafah adalah bagian dari keyakinan dalam beragama Islam, yang ini ternyata diberikan jaminan kemerdekaan dalam pelaksanaannya oleh UUD 1945 pasal 29 ayat 2, sehingga Khilafah selain mendapatkan Legitimasi syariat, juga tidak bermasalah dalam tata aturan kehidupan bernegara”. Papar Abu Salma, salah satu anggota delegasi Khilafatul Muslimin.

Diskusi Interaktif dan Konsep Empat Pilar

Diskusi yang berlangsung hangat dan akrab selama hampir tiga jam tersebut diwarnai dengan berbagai pertanyaan kritis dari pihak MUI. Pembahasan mencakup definisi operasional khilafah, dalil syar’i yang mendasari konsep khilafah sebagai jama’ah, hingga bentuk hubungan Khilafatul Muslimin dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta kedudukan Ulil Amri sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 59.

Semua pertanyaan dari jajaran Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan MUI Pusat dijawab secara lugas dan gamblang oleh pihak delegasi. Pada kesempatan itu pula, Khilafatul Muslimin memaparkan konsep strategis yang dirangkum dalam Empat Pilar untuk Mewujudkan Persatuan Umat Islam, yaitu:

  1. Satu dalam Aqidah
  2. Toleransi dalam Fiqh
  3. Sinergi dalam Dakwah
  4. Satu Suara dalam Siyasah

Komitmen Lanjutan

Menjelang akhir acara, Dr. H. Wido Supraha, ST, M.Si. menyampaikan apresiasi atas keterbukaan dialog yang telah terjalin. “Insyaallah silaturahim ini akan ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya, sehingga kami bisa mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif terkait dengan Khilafatul Muslimin,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disambut baik oleh kubu delegasi. “Insyaallah dengan senang hati kami akan hadir untuk kembali berdiskusi, sehingga segala hal tentang Khilafatul Muslimin bisa dipahami dengan baik oleh MUI Pusat,” tutup Ustadz Wuri Handoyo mengakhiri audiensi.

Responses (3)

  1. Dripping cock videosTeen cribs club in their houseDallas nude strip
    clubPorn star and portraitFree sex videos markMemoirs of a geisha citiesFree granny grandson sexBlood vessel on penisA very young teenCum face rub xnxx Arab couple fuckingCrazy porn galleryGirls love assAsian dynasties hamachiBabe booze brim orgy sexCock monsterousWhite bbw
    https://newxxx.jumpandread.com Mature latinWiley and the
    hairy man storySexual assault 2008 jelsoft enterprises ltdPatty fuckProactive breast healthEscort agencies in denver coloradoRock hill sc adult
    videoAshworth midwest callette amateur xnxx Cuentos
    tabu sexo anal infantilLeccare la vulvaDrink drunk sexBikini leopard skinPorno theatres nycPenis inside of a penisGot sexTeen girl
    underwereGrrr fuck googleFlash dick forumOld guy analHow do i make a porn filmFree mature women tit picsYoutube porno siteBreast full or tender during menopause

  2. The article notes the delegation first came on 28 September just to ask about the progress of a request letter sent since 4 June, which seems like a long gap to wait without any follow-up. For anyone organizing a similar audience, it would help to log each contact date and the name of the person who received it, then send a brief written follow-up every few weeks referencing that log. That creates a clear paper trail and makes the next visit easier to schedule.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *